perawatan

Transmisi mobil merupakan salah satu komponen penting di kendaraan, dan sebenarnya termasuk komponen mobil yang hampir jarang bermasalah, baik itu varian yang otomatis ataupun yang masih manual.

Kerusakan transmisi  85% disebabkan kelalaian mengganti oli transmisi, 10% karena kesalahan pengoperasian dan 5% akibat umur pemakaiannya. Oli Transmisi atau Spirax diperlukan untuk menjaga kinerja dan ketangguhan Sistem Transmisi Mobil.

Perawatan paling sederhana adalah dengan mengganti oli transmisi secara berkala sehingga tetap menjaga kesehatan komponen ini. Penggunaan oli nya sendiri tidak bisa sembarangan, harus oli khusus transmisi yang berbeda dari oli untuk mesin.

Komponen transmisi otomatis yang menjadi krusial diperhatikan adalah transisi. Perangkat inilah yang menjadi prioritas dalam perawatan yang sesuai dengan prosedur, termasuk di dalamnya pelumas yang dibutuhkan, yaitu Automatic Transmission Fluid (ATF). Fungsinya tidak hanya melumasi, tapi lebih dari itu. Prinsip kerja hidraulik dalam transmisi otomatis butuh ATF untuk mengatur pindah gigi dan kerja pelat kopling. Rekomendasi produsen mobil, penggantian oli transmisi (ATF) rata-rata 40.000–100.000 kilometer. Namun beberapa bengkel spesialis matik menganjurkan untuk mengganti pelumas transmisi matik antara 20.000-25.000 kilometer.

Kuras transmisi oli otomatis, setidaknya menghabiskan oli sebanyak 8 liter (biasanya untuk ganti oli menghabisnya 4 liter). Transmisi otomatis harus di-overhaul-kan, untuk memeriksa kondisi dan ketebalan kampas kopling yang terdapat didalam transmisi, selain itu juga membersihkan komponen transmisi dan menghilangkan kotoran-kotoran yang menyumbat aliran oli matic, sebab transmisi matic mengandalkan tekanan fluida/oli ATF, jika tersumbat kotoran sedikit saja, maka transmisi akan trouble karena lubang dibody valve sangat kecil

Sedangkan untuk transmisi manual pergatian oli dilakukan setiap 10.000 km

Beberapa saran untuk perawatan sistem transmisi


1. Memindahkan posisi tuas ke N saat berhenti lama

Kadang pengendara mobil matic terbuai dengan kemudahan yang diberikannya. Termasuk ketika berhenti lama di tengah kemacetan atau saat lampu merah. Kondisi ini membuat transmisi bekerja ekstra, karena harus bekerja disaat suplai udara segar terbatas.
Sebaiknya, pindah posisi tuas ke N ketika anda sedang berhenti dengan waktu yang lebih dari 60 detik. Hal ini bertujuan agar pelumas di transmisi tidak meningkat drastis ketika menghadapi kondisi seperti itu.
2. Tekan gas secara perlahan setelah memindah tuas ke D atau 1
Lantaran terburu-buru, kerap pengendara mobil matic langsung memindahkan posisi tuas ke D atau 1 dan menginjak pedal gas seketika itu, padahal transmisi perlu waktu untuk melakukan proses “Engage” dengan memindahkan tekanan fluida ke arah torque conventer. Bila kebiasaan ini tidak dihentikan, maka katup solenoid di dalam transmisi lebih mudah rusak sehingga kerusakan rentan terjadi

3. Tidak sering melakukan engin brake berlebihan
Untuk memperoleh engine brake, transmisi otomatis boleh digunakan pada posisi gigi yang lebih rendah. Namun sebaiknya lakukan perpindahan pada putaran mesin dibawah 3000 Rpm. Sebab, bila diatas angka itu, akibatnya terjadilah hard friction yang mengurangi umur pakai dari kopling gesek didalam transmisi matic

4. Menjaga mesin bekerja diputaran yang sesuai
Untuk memperoleh kemampuan berakselerasi optimal, putaran mesin pun perlu dijaga. Salah satunya dengan mempertahankakn posisi gigi yang tepat, agar mesin bekerja diputaran yang cukup tinggi.

Tapi perilaku ini tidak cocok ketika kita menggunakan transmisi matic, karena transmisi ini menggunakan kampas kopling basah, membuat selip menjadi sangat mudah terjadi, apalagi bila pengemudi kerap memindahkan posisi tuas transmisi yang berefek pada longgarnya beraring pada mainshaft. Kejadian ini ditandai dengan gejala semakin lamanya perpindahan antara gigi yang ada. Hal ini hanya bisa terjadi ketika putaran mesin hampir pada Redline.


5. Tidak langsung melakukan perpindahan dari D atau 1/2/3/4/5 ke R saat melaju
Pengoperasian tuas ketika pengendara hendak parkir, tentu memerlukan kecepatan tangan dalam memindahkan tuas. Tapi, jika dilakukan dengan kasar, maka transmisi otomatis dapat berakibat kerusakan internal maupun eksternal ditransmisi. Didalam, kerusakan yang terjadi pada planetrary gear dan one way clutch. Sementara komponen diluar transmisi yang bisa terpengaruh seperti cross joint pada as kopel, engine mounting dan as roda pada penggerak roda depan

6. Menahan transmisi di posisi gigi 1 secara terus menerus (manual)
kadang kebutuhan engine brake dan performa akselerasi dijalan menurun atau menanjak yang curam memerlukan transmisi berada di posisi gigi 1. Tapi, sebaiknya kondisi ini hanya dipergunakan ketika diperlukan saja. Dalam kondisi normal, hal ini perlu dihindari. Sebab, beban kopling semakin berat, apalagi bila dilanjutkan dengan perpindahan ke posisi gigi yang lebih tinggi pada transmisi otomatis. Dimana masih menggunakan katup membuat performa komponen per dibalik aktuator piston tersebut bisa bermasalah akibat tekanan berlebih. Hal ini kemudian mengakibatkan perpindahan menjadi tidak nyaman atau menyentak. Jika sampai terjadi, terpaksa harus melakukan penggantian komponen. Tambahan untuk mobil manual, beberapa saran untuk perawatan kopling (clutch)

Untuk memperhalus dan mempercepat perubahan gigi pada mobil transmisi manual sebaiknya setel terlebih dahulu kopling Anda, karena jarak pedal kopling yang terlalu tinggi dapat merenggangkan jarak pada koplung serta transmisi manual pada mobil. Dan ini dapat menyebabkan perpindahan gigi menjadi kasar serta berat saat perpindahan gigi dilakukan. Setel kopling ini dapat juga Anda lakukan dari pedal kopling dan juga beberapa tipe kendaraan lainnya melalui kabel yang terhubung dari kopling ke bagian transmisi yang terletak di mesin.

Supaya kopling tidak cepat haus, jauhkan meletakkan kaki pada kopling, terutama sewaktu gigi telah masuk serta kendaraan telah melaju. Jadi jangan biasakan kaki menyentuh pedal kopling, apalagi disaar mobil sedang melaju, karena efek dari kebiasaan tersebut dapat meningkatkan friksi antara kopling serta transmisi dan mempercepat usia pemakaian komponen pada mesin.